“Alah. Ga peduli lah Presidennya mau siapa. Ga ngaruh sama hidup gue.”
Pernah denger atau baca kalimat seperti itu dari seseorang? Dia engga peduli soal politik. Dia ga peduli siapa presidennya, siapa pejabat yang bertugas di kotanya, siapa saja orang di dalam gedung DPR, dan sebagainya.
Bahkan dalam sebuah perbincangan dengan rekan saya sendiri, ketika saya tanya soal apa pendapatnya tentang kinerja presiden saat ini, dia berkata, “Alah, presidennya siapa juga sama aja. Ga ngaruh. Kerja tetep kerja, kok.”
No. No. No.
Dia mungkin ga peduli soal politik. Ga peduli siapa yang bertugas di balik semua jabatan yang ada. Padahal, semua itu memengaruhi hidupnya sampai dia tua nanti.
Namun, saya dulu juga gitu. Ga peduli politik dan ‘‘gemerlap” yang ada di dalamnya. Karena memang memusingkan, kan? Politik sering terlihat:
- Ribut
- Penuh kepentingan pribadi
- Penuh drama
- Jauh dari kehidupan pribadi kita sehari-hari
Akan tetapi, bener ga si politik itu sepenting itu buat hidup kita sehari-hari ?
Mungkin Selama ini Sudut Pandang Kita Soal Politik itu Kurang Lengkap
Tatkala telinga mungil kita mendengar kata “politik”, mungkin kita langsung mengembara ke Presiden, Anggota DPR, DPRD, DPD, MK, Wakil Presiden yang plonga-plongo, partai, pemilu, kampanye. Similar dengan itu semua pokonya. Enggak salah, itu semua memang bagian daripada gemerlap dunia politique.
Namun, kalau politik hanya kita pahami sebatas siapa yang menjadi presiden atau partai mana yang menang pemilu, kita akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita.
Karena politik pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana keputusan tentang kehidupan bersama dibuat.
Apa yang menjadi prioritas?
Uang negara digunakan untuk apa?
Peraturan apa yang dibuat?
Siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan?
Bagaimana kepentingan masyarakat yang berbeda-beda dipertemukan?
Dan yang tidak kalah penting: siapa yang merasakan dampak dari keputusan-keputusan tersebut?
Nah, kalau sudut pandang kita mulai lebih lengkap seperti itu, rasanya politik engga jauh lagi itu. Bahkan mungkin setiap napas yang kita hirup, rasanya seperti ada andil politik di dalamnya. Rasanya politik begitu dekat, menyelimuti hidup kita sehari-hari. Seperti sebuah teror (kalo pemimpinnya jelek).
Coba Perhatiin Hidup Kita Sehari-hari
Inget-inget ketika pagi hari kita mau berangkat kerja. Kita nyalain kendaraan, melewati berbagai macam jalan yang ada dengan segala macam lubang di jalan, melewati jam kerja selama minimal 7 jam dengan durasi kerja 1 bulan, lalu menerima upah sekian, beli makan siang di suatu rumah makan, beli kopi bisa jaga fokus dan kena pajak PPN, pas mau pulang beli bensin dulu. Eh ternyata harga bensin naik. Kita pake internet dan segala macam fasilitas publik. Sampai akhirnya pulang ke rumah pas sore hari. Macet di jalan padahal udah capek di kerjaan.
Kek kehidupan dan rutinitas biasa gitu ya? Tapi coba kita renungkan satu per satu.
Jalan yang kita lalui itu awalnya gimana? Uang buat bikin jalan itu didapat dari mana? Kenapa baran tertentu harganya naek? Kenapa ada pajak ketika kita beli sesuatu? Kenapa ada aturan jam kerja minimal 7 jam dan gajian tiap 1 bulan sekali? Kenapa di sebuah daerah ada fasilitas mewah, sementara di daerah lain tidak ada?
Semuaaaa pertanyaan itu akan membawa kita pada satu konklusi, yaitu andil kebijakan publik.
Kebijakan publik tidak muncul begitu saja. Di balik itu, ada belasan rapat yang diselenggarakan oleh orang-orang “penting”, ada anggaran yang disetujui bersama, ada aturan yang disusun (kadang oke, seringnya aneh), ada kepentingan yang diperjuangkan, dan sebagainya sampai menyentuh keputusan final dan dieksekusi.
Di situlah, politik mulai berbaur ke dalam siklus kehidupan kita sehari-hari. Enggak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia bahkan yang model negaranya dipimpin oleh seorang Raja.
Jadi, agak paradoks sama orang yang bilang, “Aku engga peduli urusan politik.” Ketika dia ngomong kek begitu, artinya dia secara tidak langsung juga sedang tidak peduli dengan harga bahan baku makanan, cara mencari pekerjaan, gaji sebuah profesi, hukum kepada seorang kriminal, sistem pendidikan, sampai fasilitas kesehatan saat dia jatuh sakit. Bahkan masa depannya.
Karena kalo dia berkata dia peduli dengan semua itu, tandanya secara ga langsung dia juga peduli terhadap politik.
Kita Enggak Harus Fokus Politik Biar Terkena Dampaknya
Ada yang menarik soal dunia politik. Kita enggak harus melempar atensi kita terhadapnya. Kita ga harus tahu apa visi misi presiden saat ini. Kita ga harus paham apa kerjaan wakil presiden saaat ini. Kita ga harus tahu nama anggota DPR yang menjabat saat ini beserta tugas-tugasnya. Mau anggota DPR-nya mantan artis yang sering guyonan di TV pun, bodo amat. Kita ga harus suka pantengin berita politik seminggu sekali. Kita ga harus ikut debat soal urusan politik di medsos.
Kayak naik kapal. Kita ga harus paham cara nahkoda kendaliin kapalnya. Dia belokin ke kanan, ya kita ikut ke kanan. Dia ke kiri, ya kiri. Dia buta maps sampai nabrak sesuatu, yaudah kita ikut kena getahnya.
Dunia politik seperti itu. Suka ga suka, aturan akan diberlakukan, pajak akan dipungut, hukum tumpul ke atas tajam ke bawah akan langgeng, anggaran ga masuk akal akan diadakan, proyek yang pengelolaannya buruk akan tetap diabadikan. Kita akan hidup membersamai semua itu sampai mati.
Namun, minimal, jika kita engga paham siapa nahkodanya, kita harus tahu arah kapalnya tu mau dibawa ke mana?
Masalahnya, Politik Memang Sering Tampil dengan Format yang Tidak Menarik
Kita kan lebih suka sama hiburan ya? Nonton film, main games, nongkrong sama teman, jajan. Itu semua kita suka.
Di sisi lain, edukasi soal politik itu membosankan dan ga menarik. Sering tampil dalam kondisi perdebatan sengit, konflik, bahasa-bahasa langit, si A dipaksa milih ini, si B dipaksa milih itu.
Padahal sebelum harus memilih siapapun, kita perlu paham tujuan di balik memilih seseorang untuk akhirnya duduk di sebuah bangku jabatan. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apa sebenarnya persoalannya?
Apa kebijakannya?
Apa alasannya?
Siapa yang diuntungkan?
Siapa yang mungkin dirugikan?
Apa dampaknya bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa yang paling sering muncul di layar.
Karena melek politik seharusnya bukan berarti kita menjadi penggemar seorang politikus.
Melek Politik Bukan Berarti Harus Jadi Fanatik
Mungkin, kita harus lebih jeli tentang apa definisi dari melek politik. Bahwa melek politik itu kita ga harus kok hapal siapa saja pejabat di daerah kita. Engga perlu mulai dari sana. Engga harus ikut semua isu yang terjadi. Ga harus dominan ke partai politik tertentu.
Untuk mulai melek politik, cukup mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu mempertebal Rasa Penasaran dengan cara Sering Bertanya.
Ketika harga sesuatu berubah, kita bertanya mengapa.
Ketika sebuah kebijakan dibuat, kita bertanya untuk apa.
Ketika pemerintah mengeluarkan uang dalam jumlah besar, kita bertanya digunakan untuk apa.
Ketika sebuah aturan menguntungkan kelompok tertentu, kita bertanya mengapa.
Ketika sebuah masalah terjadi, kita tidak buru-buru mencari siapa yang bisa disalahkan, tetapi mencoba memahami bagaimana masalah itu bisa terjadi.
Dengan begitu, kita tidak mudah menerima informasi hanya karena informasi tersebut sesuai dengan apa yang ingin kita percaya.
Kita mulai belajar membedakan antara fakta, opini, propaganda, kepentingan, dan interpretasi.
Dan menurut saya, di situlah kesadaran politik mulai tumbuh.
Jadi, Haruskah Kita Mulai Peduli Politik?
Menurut saya, iya.
Bukan karena politik selalu menarik.
Bukan karena semua politikus layak dipercaya.
Bukan pula karena kita harus masuk ke dalam salah satu kubu.
Kita perlu memahami politik karena kita hidup bersama orang lain, dan kehidupan bersama membutuhkan keputusan.
Siapa yang membuat keputusan itu?
Bagaimana keputusan tersebut dibuat?
Kepentingan siapa yang dipertimbangkan?
Dan bagaimana keputusan itu akhirnya memengaruhi kehidupan kita?
Setidaknya, kita perlu tahu jawabannya.
Sebab politik bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi kekuasaan.
Politik juga tentang bagaimana keputusan dari kursi tersebut akhirnya sampai ke jalan yang kita lewati, pekerjaan yang kita jalani, uang yang kita keluarkan, sekolah yang kita masuki, rumah sakit yang kita datangi, dan meja makan tempat kita menghabiskan waktu bersama keluarga.
Jadi, kalau suatu hari seseorang berkata,
“Saya tidak peduli politik.”
Mungkin kita tidak perlu langsung membantahnya.
Cukup tanyakan satu hal:
“Kalau begitu, apakah kamu tidak peduli dengan kehidupanmu sendiri?”
Karena mungkin, tanpa kita sadari, politik sudah peduli kepada kita jauh sebelum kita memutuskan untuk peduli kepadanya.
