Sebelum memasuki ide utama dari artikel ini, izinin saya membuka dengan sebuah cerita yang mungkin relate dengan kesibukan kamu saat ini.
Jadi, hal yang saya impikan saat ini adalah menulis sesuatu yang bermanfaat untuk hidup orang lain. Saya merasa, bahwa saya ada di dunia ini untuk itu. Menulis sesuatu yang pada akhirnya dapat mengubah dan menggerakkan hati banyak orang menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan media apa saja yang dapat saya akses.
Di sisi lain, saya juga menjalani aktivitas untuk mencari tambahan uang untuk hidup. Saya membuka jasa Ball Boy panggilan di semua lapangan padel dan tenis di Semarang. Tarif sekian untuk per jam main.
Masalah yang mungkin relate dengan kamu adalah: saya bisa begitu disiplin, tepat waktu, dan profesional dalam melayani klien dari jasa Ball Boy saya daripada menulis sesuatu untuk orang lain yang mana itu adalah tujuan hidup saya.
Lalu muncullah pertanyaan di otak saya. “Kenapa sesuatu yang kita anggap penting bagi hidup kita justru bisa lebih sulit dikerjakan daripada pekerjaan yang dilakukan untuk orang lain?”
Mungkin kamu juga merasakan itu dengan kesibukan dan pekerjaan yang kamu geluti saat ini.
Sebuah Paradoks
Kita mungkin pernah kali ya, nyebut diri kita sendiri itu sebagai pemalas. Namun, anehnya, ketika sebuah pekerjaan ada korelasinya dengan orang lain dan memiliki deadline, kita tiba-tiba kehilangan identitas pemalas itu.
Contoh:
- Males ngerjain skripis, tapi selalu berusaha tepat waktu ke kerjaan.
- Mager ngebentuk bisnis sendiri, tapi kerjaan dari klien bisa perfeksionis.
- Bikin konten buat akun sendiri males-malesan, tapi giliran dapet tawaran bikin konten buat brand lain bisa semangat.
Dan lain sebagainya yang seiras dengan itu.
Nah, balik lagi ke studi kasus tadi. Mengenai fenomena menjadi Ball Boy panggilan buat orang yang main padel atau tenis yang saya geluti.
Ternyata setelah saya amati, ada sesuatu yang berubah ketika pekerjaan kita melibatkan kepentingan orang lain secara jelas.
Misal kamu punya klien. Dia pengen kamu kerjain project A dengan tenggat waktu 10 Desember 2026. Kepentingannya sangat jelas. Projectnya jelas, batas tanggalnya juga jelas, kamu pun mengerjakan dengan lingkup yang membuatmu mau gak mau ya harus diselesaikan.
Berbanding terbalik dengan sebuah pekerjaan yang mungkin belum terproyeksikan dengan jelas. Misal kamu adalah seorang seniman. Kamu mau bikin project pribadi yang bakal kamu posting di media sosial kamu.
Klien yang tadi, kalo udach tanggal 9 Desember 2026 pasti bakal chat kamu sambil nanyain progresso terbaru dari project yang dia berikan padamu.
Namun, soal project pribadimu, siapa yang nunggu? Siapa yang bakal kejar-kejar deadline? Kemungkinan besar gaada, karena memang itu Adalah project pribadi yang tujuannya sebagai asset digital di masa depan. Entah buat personal branding atau portofolio nantinya.
Kalo ga dikerjain pun, ya gabakal ada yang marah. Beda kalo project dengan klien yang udah bayar kita kan?
Ini jadi semacam, “Kita lebih takut mengecewakan orang lain, ketimbang mengecewakan diri kita sendiri di masa depan.”
Nah, oleh karena itu, dalam mengerjakan misi pribadi kita, kita memang butuh sebuah sistem agar dapat berjalan semestinya.
Sebuah Sistem agar Kita Juga Peduli dengan Project Pribadi Kita Sendiri
Dari apa yang kita pahami tadi, bukan berarti masalah utamanya adalah tidak atau adanya deadline atau tenggat waktu. Perlu sistem yang terstruktur agar kita mampu secara seimbang mengerjakan misi pribadi kita dan misi yang kita jalani dari amanah orang lain.
Gagasan utamanya adalah; “Kalau kita membutuhkan orang lain untuk membuat sebuah pekerjaan terasa nyata, mungkin kita perlu belajar menciptakan ‘orang lain’ itu dalam sistem hidup kita sendiri.”
Pertama-tama, kita musti mulai dengan mencari alasan kenapa kita mengerjakan misi pribadi kita. Start with Why kalo kata Pak Simon Sinek dalam bukunya.
Kenapa kita memulai itu? Apa kepentingan jangka panjang yang ada di baliknya? Untuk siapa manfaat yang lahir jika kita mengerjakan misi pribadi kita? Gali terus alasan kenapa kita harus memulai itu. Agar kita mampu melewati berbagai bentuk “bagaimana”-nya.
Lalu, kita lanjut ke membuat sistem. Ini yang perlu kita rancang:
· menentukan jam kerja;
· membuat deadline yang konkret;
· punya target yang bisa diukur;
· memberi tahu orang lain tentang target kita;
· membuat sistem yang memaksa kita mulai, bukan menunggu mood.
Pada intinya, kita akan selalu membutuhkan struktur dari luar untuk mengerjakan sesuatu yang berasal dari dalam.
Jangan Biarin Diri Kita Kecewa dengan Diri Kita Sendiri, karena Kita Juga Klien untuk Diri Kita Sendiri
Kita bisa datang tepat waktu karena ada seseorang yang sudah mempercayakan waktunya kepada kita.
Lalu pertanyakan:
Bukankah diri kita sendiri juga sedang mempercayakan sesuatu kepada kita?
Ada tulisan yang ingin kita buat.
Ada bisnis yang ingin kita bangun.
Ada kemampuan yang ingin kita pelajari.
Ada kehidupan yang ingin kita jalani.
Dan semuanya menunggu kita.
“Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa menghormati waktu orang lain, sampai lupa bahwa waktu yang kita miliki juga milik seseorang yang harus kita pertanggungjawabkan, yaitu diri kita sendiri.”
