Lompat ke konten

Aslinya, Alasan Hidup Kita itu Apa, sih?

Salah satu temen deket saya pernah nanya, “Kasih aku satu alasan hidup yang realistis. Jangan karena Tuhan atau orang tua. Kasih alesan yang lain.”

Saya membatin, “Lah, padahal Tuhan dan orang tua itu termasuk realistis, loh.” Tuhan itu ada, orang tuanya juga masih ada di rumah. Kurang realistis apa?

Namun, saya memahami teman saya itu. Dia cuman butuh semacam … jawaban yang lebih “klik” dengan hatinya.

Sependek pengetahuan saya, manusia hidup dengan dua alasan, yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di bumi.

Kita punya tujuan hidup secara vertikal dan horizontal.

Hablum minallah dan hablum minannas. Hubungan vertikal antara kita dengan Allah. Juga hubungan horizontal antara kita dengan sesama manusia.

Saya rasa, temen saya sudah punya hubungan yang cukup baik dengan Allah.

Namun, tampaknya dia masih merasa hampa atau bingung terkait hubungannya dengan manusia harus bagaimana.

Alasan Kita Masih dan Harus Bertahan Hidup adalah untuk Memberi Impact (Dampak)

Kamu atau teman dekatku itu, barangkali saat ini masih mempertanyakan atau mencari alasan hidup, penyebabnya karena masih belum punya target spesifik kepada siapa atau apa untuk kamu beri dampak baik.

Saya di sini juga tidak memungkiri bahwa kamu dan teman dekat saya pasti sudah sering berbuat baik ke orang lain, ke manusia lain.

Namun, salahnya adalah; kamu belum menyadari kalau itu adalah tujuan hidupmu di dunia.

Teman dekat saya, dia orang baik. Dia banyak membantu orang lain di saat dia sendiri membutuhkan bantuan juga. Namun, dia masih bertanya tentang alasan untuk apa dia hidup.

Padahal, dia hanya belum menyadari bahwa dia sudah melakukan tujuan hidupnya, yaitu memberi dampak baik atau bermanfaat pada orang lain.

Tugas akhirnya adalah konsisten dengan itu.

Saya melakukannya dengan cara menulis. Jujur saja, sejak artikel ini dimuat. saya belum mendapatkan penghasilan dari menulis seperti ini (ya moga-moga aja besok bisa dapet). Namun, saya akan tetap menulis karena bagi saya menulis seperti ini adalah bentuk memberi dampak baik kepada orang lain dalam hidup saya.

Saya seneng ketika orang merasa terbantu atau beban di pikirannya teringankan saat membaca tulisan saya. Menurut saya, itu lebih mahal daripada uang.

Tatkala saya merasa kehilangan arah hidup, saya selalu mengingat kalau saya masih bisa menebar manfaat melalui tulisan.

Mungkin kamu berpikir, “Jadi, kita hidup untuk orang lain? Bukan untuk diri kita sendiri? Bukankah aku bertanya tentang tujuan hidup untuk diriku sendiri? Kenapa malah memikirkan dampak yang harus kuberi untuk orang lain?”

Faktanya, fitrah diri kita sebagai manusia adalah memberi. Kita diciptakan dengan sistem; bahagia setelah memberi. Mau percaya atau enggak, itu faktanya.

Dengan memberi, maka kita akan “menerima”. Saat kita menerima, kita akan merasakan kebahagiaan. Itu hukum alam.

Jujur saja, kamu tidak akan pernah merasa bahagia ketika kamu hanya fokus mengurus hidupmu sendiri.

Di dalam relung hatimu yang paling dalam, akan selalu ada hasrat atau dorongan untuk memberi sesuatu ke orang selain dirimu.

Entah itu anggota keluarga kamu, pasangan hidup, sahabat, atau orang lain yang kamu lihat memerlukan bantuan. Walaupun hanya satu orang.

Karena mau bagaimana pun, manusia tetaplah makhluk sosial. Kita memberi dan menerima.

Carilah orang paling egois di dunia ini di belahan bumi manapun. Seegois-egoisnya dia, kamu pasti akan menemukan dia memiliki satu hal yang selalu ia beri sesuatu.

Entah itu anaknya, hewan peliharaannya, mainan kesukaannya, atau tumbuhan yang ia rawat. Pasti dia punya satu hal yang selalu ia beri.

Secara tidak langsung, manusia tidak bisa hidup tanpa memberi sesuatu ke objek lain.

Karena manusia diciptakan dengan membawa cinta di dalam hatinya. Itu fitrah. Cinta itulah yang memberikan ia dorongan untuk tetap bertahan hidup dengan cara mencari objek yang bisa ia tanamkan rasa cintanya.

Seperti tanah yang selalu mau menerima hujan, nektar bunga yang selalu menyambut lebah, belalang sembah jantan yang rela kepalanya dimakan oleh betinanya setelah melakukan reproduksi, atau seperti seorang ibu yang rela mengandung bayinya selama 9 bulan. Kamu akan selalu punya alasan hidup karena suatu hal.

Javit Fadlan

Kamu hanya perlu menyadarinya. Alasan hidupmu sudah ada di radarmu. Barang kali dia sudah kamu kenal selama ini, pernah kamu sapa secara tidak langsung pada sebuah acara, atau pernah kamu datangi tengah malam.

Objek itu — alasan hidupmu — sudah sejak lama ada di sekitarmu, hanya saja kamu kurang menyadarinya.

Bahkan, orang-orang yang masuk ke dalam daftar orang terkaya di dunia, pasti selalu punya aktivitas filantropi (aktivitas kedermawanan pada manusia lain).

Padahal, orang-orang itu seharusnya sudah bisa fokus dengan hidupnya sendiri. Namun, mereka masih mau repot-repot membangun sekolah, mendirikan yayasan, memberi donasi untuk terbangunnya rumah sakit, dan sebagainya.

Itu membuktikan bahwa mau sekaya apapun manusia, dorongan untuk memberi orang lain itu akan selalu ada. Karena itulah sejatinya kita ada di bumi, untuk memberi.

Andai fokusmu tentang materi. Bukankah berbisnis itu termasuk memberi?

Kita perlu ingat bahwa bisnis = memberi yang dibayar.

Bisnis selalu diawali dengan pengamatan sebuah masalah pada sekumpulan objek. Setelah itu pencarian sebuah solusi. Ketika solusi sudah ditemukan, maka solusi itu akan dijual guna menyelesaikan masalah yang sudah diamati tadi. Itulah bisnis.

Kamu menjual dimsum tujuannya tidak hanya untuk mendapatkan uang, tapi juga membantu orang lain yang lagi ngidam dimsum.

Ujung-ujungnya tetap sama, yaitu memberi atau membantu.

Itulah tujuan hidup kita. Tentu saja, tetap ingat dengan hubungan vertikal kita, yaitu kepada Allah. Karena itu lebih utama daripada hubungan horizontal.

Keduanya wajib ada, tetapi hubungan vertikal harus lebih diprioritaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *