Lompat ke konten

Belajar, Lakukan, Bagikan = Tiga Step Hidup Bermakna

Kita udah sering denger kalau semua manusia itu diciptakan dengan tujuannya masing-masing.

Sering pula kita denger kalau manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya.

Masalahnya, kita pernah ada pada momen tidak tahu sebenernya apa tujuan kita diciptakan dan bagaimana kita dapat bermanfaat untuk sesama.

Karena itulah tulisan ini hadir. Menjawab kegelisahan kita mengenai, “bagaimana jika kita tidak jadi apa-apa di dunia ini?”

Belajar

“Iqra, Milea.” Begitu kata Dylan pada Milea saat scene apa, ya? Saya lupa. Intinya, membaca adalah cara utama dalam belajar.

Bahkan, ayat pertama yang turun pada Rasulullah juga bertuliskan Iqra’. Baca, baca, dan baca. Kita disuruh mencari tau, kita disuruh belajar, kita disuruh mengisi ruang di dalam otak kita.

Belajar adalah step pertama untuk meraih hidup yang anti bosan. Untuk meraih hidup yang begitu-begitu saja. Untuk menepis overthingking seperti, “Aku kok gini-gini aja, ya?”

Karena hanya dengan belajarlah, kita akan melihat versi terbaru dari diri kita di setiap pembelajarannya. Kita akan semakin mengenali diri, mengenali dunia, dan seisinya.

Belajar apa? Belajar apa saja, asal baik, halal, dan bermanfaat ketika dibagiin ke orang lain. Lebih baik lagi kalau kamu belajar sesuatu yang membuatmu ketagihan, sampai-sampai membuatmu ahli di bidang tersebut.

Belajar enggak susah, kok. Modal utama belajar adalah rasa penasaran.

Untuk bisa memiliki rasa penasaran, tanamkan pada diri kita bahwa kita adalah orang bodoh. Kita adalah gelas kosong. Kita adalah kolam renang yang enggak ada airnya. Kita adalah … apa lagi, ya? Ya, pokoknya itu, deh. Anggap diri kita bodoh, agar kita selalu penasaran, kemudian mau mempelajari sesuatu.

Lantas, jika sudah ketagihan untuk belajar, apakah dunia kita akan baik-baik saja? Enggak semudah itu.

Berkarya

Setelah proses belajar kita lakukan, ilmu telah terserap ke dalam otak kita, maka langkah selanjutnya adalah praktikkan.

Sudah berapa kali kamu denger kalimat, “Buat apa belajar kalau enggak dipraktikkan?” Entah dari teman, guru, orang tua, atau orang lain.

Nahasnya, setiap orang pasti pernah belajar tanpa melakukan apa yang dia pelajari. Contoh mudahnya adalah membaca buku, tapi hanya sekadar membaca, tidak menerapkan hasil bacaan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, tapi untuk saat ini kita tidak membahas itu. Poinnya kali ini adalah saya mencoba menyuarakan kembali pentingnya mempraktikkan apa yang kita pelajari.

Kalau kamu mempelajari resep makanan, coba praktikkan resep itu. Kalau kamu mempelajari manajemen keuangan, praktikkan itu saat gajian. Kalau kamu mempelajari bagaimana berinteraksi baik dengan orang lain, maka terapkan itu di lingkungan sosial kamu. Apa pun yang kamu pelajari, terapkan semampu kamu.

Sebab, poin berikutnya punya kaitan erat dengan ini.

Berbagi

Setelah berhasil belajar dan mempraktikkan, maka step terakhir untuk meraih hidup yang seru adalah berbagi.

Dari proses mempraktikkan hasil belajar, kamu pasti akan mendapatkan interpretasi dan pengalaman unik yang bermanfaat untuk hidupmu. Nah, itulah yang wajib kamu bagikan ke orang lain.

Kenapa harus kita bagikan? Pertama, tentu saja karena rasa bahagia manusia terletak pada rasa bahagia orang lain yang asalnya dari perbuatan kita. Sama seperti ketika kamu masak camilan yang enak dan temanmu menyukainya, kamu pasti bahagia, kan?

Kedua, agar apa yang kita pelajari semakin melekat pada diri kita. Perlu kita ingat bahwa, ilmu akan semakin menempel di otak apabila kita mengajarkannya ke orang lain.

Fyi, ada sebuah studi yang bernama “The Protege Effect”. ​Sebuah studi yang menunjukkan bahwa siswa yang mempelajari materi dan kemudian merekam presentasi penjelasan kepada orang lain menunjukkan retensi dan kemampuan transfer (penerapan ilmu) yang jauh lebih baik daripada siswa yang hanya mempelajari materi tersebut untuk diri mereka sendiri.

Termasuk yang sedang saya lakukan saat ini. Tulisan ini adalah usaha saya agar apa yang saya pelajari dapat melekat lebih erat di memori saya.

Begitulah, teman-temen. Barangkali saat ini kamu bener-bener jadi orang gabut yang kerjaannya scroll media sosial melulu. Padahal, kamu tau itu enggak baik. Namun, karena kamu bingung harus melakukan apa, maka aktivitas itu tetap kamu lakukan baik sengaja ataupun tidak.

Jika bener gitu, coba aja 3 step yang saya kamu baca di sini. Dari yang sederhana saja. Mulai dari apa yang membuatmu penasaran dan rasanya seru buat dipelajari. Kemudian terapkan. Terakhir, jangan lupa bagikan kepada mereka yang satu frekuensi denganmu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *