Lompat ke konten

Emang Harus ya Lihat ke “Bawah” Biar Bisa Bersyukur?

Kamu pasti pernah denger sebuah anjuran yang kurang lebih kalimatnya gini, “Kita harus melihat orang yang kondisinya ada di bawah kita biar bisa lebih bersyukur.”

Pertanyaannya, “Emang harus banget ya lihat orang yang kondisinya lebih sulit daripada kita biar bisa bersyukur? Emang pantes ya jadiin penderitaan orang lain buat pijakan untuk mempertahankan senyum?”

Nah, untuk menjawab persoalan itu, perlu sudut pandang yang lebih jernih lagi. Agar kita gak salah tangkap makna di balik anjuran tersebut.

Kita Emang Keseringan Liat ke Atas

Tapi emang gabisa dipungkiri kan? Kita terlalu sering membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Bahkan ga tanggung-tanggung, kita sangat ahli mencari yang lebih baik hidupnya dari kita.

Kemudian kita komparasikan hidup kita dengan mereka. Dan apa yang terjadi? Iyak, merasa rendah diri dan bertanya-tanya tentang mengapa hidup kita tidak bisa seimbang dengan orang yang kita lihat di media sosial.

Aktivitas itu sama dengan toxic kepada diri sendiri.

Waktu saya lagi luang dan ga sengaja buka short YouTube, kebetulan potongan podcast dari Om Deddy Corbuzier lewat. Lagi bahas tentang bagaimana cara bahagia dari perspektif beliau. Om Ded ngomong dengan isi kalimat yang kurang lebih sama dengan yang sudah kamu baca tadi. Bahwa kita ga bahagia, seringnya karena terlalu lihat membandingkan hidup dengan orang lain.

Orang zaman dulu tingkat kebahagiaannya lebih bagus, Bro. Sebab belum ada media sosial yang memudahkan manusia untuk menengok rumput yang lebih hijau. Orang zaman dulu mentok-mentok cuman tau hidup tetangganya. “Oh, Bu Mega beli daster baru di pasar.” Atau, “Oh, Pak Prabowo beli motor astrea baru, tuh.”

Sedangkan era kita? Bergelimang penampakan hidup orang di begitu masifnya media sosial dalam satu genggaman ponsel. Maka tak heran, insecurity begitu mudah kita rasakan.

Gimana Kalo Kita Lihat Sebaliknya?

Terus, coba dibalik. Gimana kalo kita lihat ke arah sebaliknya?

Ternyata, pekerjaan yang selama ini kita keluhkan adalah pekerjaan yang memang ga enak. Eh, maksudnya adalah pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Kalimat pertama tadi becanda, ya. Ternyata, ponsel lemot yang sering kita umpat karena penyimpanannya tinggal dikit, adalah ponsel impian dari anak-anak SD yang mau beli HP aja harus nendang pintu rumah dulu sambil nangis. Atau ternyata, menu makanan yang sering kita cap membosankan adalah impian bagi anak-anak sekolah yang bosen dengan menu MBG-nya Pak Prabowo. Coba sadari fakta itu teman-teman.

Versi seriusnya adalah: Kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa kelebihan yang kita genggam di tangan kita saat ini, adalah angan-angan bahagia dari banyaknya orang. Hanya saja, kita dibutakan oleh kelebihan itu karena melihat kelebihan milik orang lain. Kemudian kita sadar, kita memang tidak pernah puas.

Kita memang punya kemampuan aneh, yaitu jago menjadikan sesuatu yang berharga menjadi biasa saja karena sudah terbiasa. Padahal semua hal yang kita miliki saat ini, nilai berharganya tidaklah hilang. Yang hilang adalah kesadaran kita bahwa itu semua berharga.

Mungkin karena itulah, sesekali kita perlu menengok pada orang lain yang belum seberuntung kita. Nah, maksud “di bawah” adalah orang yang belum seberuntung kita.

Hati-Hati dalam Memahami Anjuran Bersyukur

Mengajak seseorang bersyukur dengan mengatakan bahwa masih banyak orang yang hidupnya lebih susah bukan berarti kita boleh menganggap remeh masalah mereka.

Seseorang yang sedang kehilangan pekerjaan tetap boleh merasa sedih meskipun ada orang yang lebih miskin darinya.

Seseorang yang gagal dalam hubungan tetap boleh merasa patah hati meskipun ada orang lain yang menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

Kita perlu inget bahwa penderitaan bukanlah sebuah definisi perlombaan dalam menimbang rasa syukur tiap-tiap pribadi. Karena itu, melihat kehidupan orang yang kurang beruntung seharusnya bukan digunakan untuk membatalkan masalah kita.

Ia seharusnya digunakan untuk memperluas cara kita memandang kehidupan.

Kita boleh mengakui bahwa hidup sedang sulit.

Pada saat yang sama, kita juga boleh mengakui bahwa hidup masih memberikan banyak hal kepada kita.

Kedua hal tersebut bisa benar secara bersamaan.

Perbedaan antara Bersyukur dan Merasa Lebih Beruntung

Dan mungkin di sinilah letak perbedaan antara bersyukur dan merasa lebih beruntung. Merasa lebih beruntung membuat kita melihat orang lain sebagai pembanding. Bersyukur membuat kita melihat kehidupan kita dengan lebih sadar.

Ketika kita sadar bahwa kita masih memiliki sesuatu yang berharga, kita tidak harus berhenti mengejar sesuatu yang lebih baik.

  • Kita masih boleh ingin punya penghasilan lebih besar.
  • Masih boleh ingin memiliki rumah yang lebih nyaman.
  • Masih boleh ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
  • Masih boleh memiliki mimpi yang jauh lebih tinggi.
  • Masih boleh pengen punya presiden yang lebih baik dari presiden sekarang.

Bersyukur engga harus bikin kita berhenti berjalan.

Ia hanya mengingatkan kita untuk tidak menganggap perjalanan yang sudah kita tempuh sebagai sesuatu yang tidak berarti.

Dan kalau rasa syukur hanya berhenti pada perasaan, mungkin kita belum sampai pada bentuk terbaiknya.

Sebab ketika kita menyadari bahwa hidup kita ternyata lebih beruntung daripada sebagian orang lain, mungkin pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Kenapa hidup mereka seperti itu?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kulakukan?”

  • Mungkin kita bisa berbagi makanan.
  • Mungkin kita bisa membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.
  • Mungkin kita bisa memberikan kesempatan.
  • Mungkin kita bisa menyumbangkan sesuatu.
  • Atau mungkin, dalam bentuk yang paling sederhana, kita bisa berhenti menghakimi orang lain yang hidupnya tidak seberuntung kita.

Sebab pada akhirnya, rasa syukur yang baik tidak membuat kita berdiri lebih tinggi dari orang lain. Ia justru membuat kita semakin sadar bahwa kehidupan yang kita miliki bukan hanya sesuatu yang pantas dinikmati, tetapi juga sesuatu yang bisa digunakan untuk memberi manfaat.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya. Kita melihat orang lain membeli sesuatu, lalu merasa kekurangan. Kita melihat orang lain mencapai sesuatu, lalu merasa tertinggal. Kita melihat kopdes persis terletak di kaki gunung, lalu merasa kopdes tersebut tidak berguna?

Intrinya, kita terbiasa melihat kehidupan orang lain berjalan lebih cepat, lalu menganggap kehidupan kita berjalan terlalu lambat. Sesekali, mungkin kita hanya perlu refleksi sejenak. Liat ke belakang (jangan pake spion). Liat ke sekitar hidup kita. Kemudian sadari bahwa ada banyak hal yang dahulu sering kita doakan, lalu sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Barangkali kita tidak membutuhkan lebih banyak alasan untuk memiliki sesuatu.

Barangkali kita hanya membutuhkan lebih banyak kesadaran untuk menyadari apa yang sudah kita miliki.

Dan mungkin, melihat orang yang tidak seberuntung kita bukanlah tentang merasa lebih baik daripada mereka.

Melainkan tentang belajar melihat hidup kita sendiri dengan cara yang lebih jernih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *