Lompat ke konten

Seni Mempertahankan Rasa Antusias

Segala bentuk menggebu-gebu terhadap sesuatu, itu semua karena kita antusias dalam melakukannya.

  • Kamu yang rela pergi ke luar kota dari pagi sampai malam demi bertemu pasangan, penyebabnya itu antusias. Meskipun sebenarnya kalau dilihat dari sudut pandang pemikiran rasional, itu tidak pernah masuk akal.
  • Kamu yang selalu berangkat salat lima waktu ke masjid, salah satu sebabnya adalah antusias.
  • Kamu yang rela belajar larut malam agar bisa lolos tes masuk perguruan tinggi incaranmu, penyebabnya itu antusias.
  • Kamu yang rela temenin sahabat kamu curhat dari pukul 21.00 sampai pukul 02.00, penyebabnya itu antusias.
  • Kamu yang rela milih beli kopi daripada makan siang, penyebabnya itu antusias. Ya antusias sama kopi.
  • Ibu yang rela bangun paling pagi dan menyiapkan segala kebutuhan keluarganya, itu karena antusias juga.
  • Semua hal rasional atau nonrasional yang enjoy kita lakukan, penyebabnya itu antusias. Walaupun tetap ada tindakan rasional karena cinta, sih. Namun, kebanyakan cinta itu enggak rasional, kan?

Kita bergerak karena rasa antusias. Kita bertahan hidup di dunia ini juga salah satunya karena adanya rasa antusias.

Rasanya, antara hidup dan mati, isi cerita hidup kita sebagian besar disebabkan oleh adanya rasa antusiasme.

Masalahnya, antusiasme itu tidak bisa stabil. Antusiasme punya momen untuk luntur. Punya saat-saat untuk pudar.

Terus, gimana, sih, biar rasa antusias itu tetap terjaga?

Mengisi Ulang Rasa Cinta

Mengapa cinta?

Karena sebenarnya … bahan bakar utama dari rasa antusias adalah cinta. Cinta adalah nyawa dari rasa antusias. Jika motor harus diisi dengan bensin agar dapat berjalan lancar, maka rasa antusias adalah motor dan bensinnya adalah cinta.

Dengan kata lain, cinta adalah penggerak segala sesuatu dan wujudnya adalah antusiasme itu.

Berarti, agar antusias tetap terjaga, kita harus selalu mempertahankan cinta, kan?

Kenapa Antusias Sepenting Itu?

Antusias menjadi penting karena agar kita menikmati apa yang kita lakukan.

Manusia melakukan sesuatu karena dua hal:

  • Karena antusias (cinta).
  • Karena takut.

Mana di antara dua itu yang harus ada ketika melakukan segala sesuatu di hidup kita? Tentu saja antusias.

Melakukan sesuatu karena takut itu enggak worth it. Rasanya seperti terpaksa. Hati enggan melakukan, tapi tubuh terpaksa untuk tetap harus bergerak. Alhasil, output dari kegiatan yang kita lakukan tidak bagus. Saat melakukan pun enggak ada maknanya. Hampa dan kosong.

Coba bandingkan, orang yang salatnya karena antusias dan orang yang salatnya hanya karena takut meninggalkan kewajiban bakal lebih khusyuk yang mana?

Ibu-ibu yang memasakkan makan malam untuk keluarganya dengan rasa antusias dan ibu-ibu yang masak makan malam untuk keluarganya karena takut rumah tangga cerai, hasil akhir masakannya lebih enak yang mana?

Kamu yang bekerja sesuai SOP karena antusias dengan versi kamu yang bekerja sesuai SOP karena takut dipecat, kira-kira lebih enak yang mana?

Kita semua tau jawabannya.

Antusias membuat segala aktivitas yang kita lakukan jadi bermakna, ringan, dan tanpa beban. Itulah mengapa menjaga rasa antusias itu penting.

Kembali lagi ke topik mengisi ulang rasa cinta, karena cinta adalah yang melahirkan rasa antusias.

Gimana, sih, caranya menjaga agar rasa cinta itu tetap ada?

Dengan berpikir.

Iya, dengan berpikir.

Contoh: Salat.

Gimana caranya biar salat kita tetap terjaga antusiasnya?

Salah satunya adalah dengan memikirkan tentang apa aja yang udah Allah kasih ke kita. Merenungkan udah seberapa banyak Allah selamatkan kita di jalan. Serta bentuk nikmat Allah lainnya yang jarang kita pikirkan.

Kalau kita mau sejenak memikirkan itu sebelum salat, maka perlahan antusias kita untuk salat akan muncul.

Contoh lain: Kerja.

Ada hari ketika kita antusias kerja kita luntur. Alhasil, kerja cuman kerja aja. Dateng, presensi, kerjakan, pulang, dan lupakan. Kerja gaada jiwa. Itu asli rasanya ga enak ketika kita bisa membandingkan hari ketika kita kerja dengan rasa antusias.

Biar rasa antusias itu lahir lagi waktu kerja, coba pikirkan udah seberapa banyak gaji bulanan dari pekerjaan kita itu menyelamatkan kita dari utang, dari menunda beli barang favorit, dari bikin anak rewel karena uang sekolah belum dibayar, dan lain sebagainya. Tentu atas izin Allah, ya.

Dengan memikirkan bahwa pekerjaan kita sudah banyak “membantu” lini kehidupan kita, harapannya rasa antusias dalam bekerja itu bisa lahir di setiap jadwal yang kamu ampu. Alhasil, kerjanya bisa enjoy.

Jadi, apa yang sekarang kamu lakuin, tapi kamu kurang enjoy jalaninnya?

Coba kamu pikir ulang manfaatnya. Kamu maknai ulang. Barangkali dengan itu, rasa cinta tetap terjaga dan antusiasme lahir agar kamu bisa menikmati apa pun yang saat ini sedang kamu kerjakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *